GRESIK || BERITA KARYA
Kemeriahan Festival Tumpeng Nasi Krawu yang digelar di kawasan Islamic Center Gresik berubah menjadi kekecewaan bagi sejumlah pengunjung. Di tengah membludaknya massa yang memadati lokasi acara, puluhan orang dilaporkan kehilangan telepon genggam (HP) maupun dompet yang diduga akibat aksi pencopetan.
Insiden tersebut memunculkan sorotan terhadap sistem pengamanan dan pengelolaan kerumunan pada kegiatan berskala besar. Hingga kini, panitia penyelenggara belum memberikan penjelasan resmi terkait banyaknya laporan kehilangan yang dialami pengunjung.
Ketua Panitia Festival, Agus Salim Lutfi, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi wartawan melalui pesan WhatsApp maupun panggilan telepon sejak Minggu (28/6/2026) malam. Tidak adanya respons dari pihak penyelenggara memunculkan pertanyaan publik mengenai evaluasi maupun langkah yang akan dilakukan pasca-insiden tersebut.

BNN Bersama Bea Cukai dan Polri Bongkar Gudang Ganja Jaringan Internasional
Kapolsek Balongpanggang AKP Wiwit Maryanto membenarkan bahwa pihak kepolisian telah menerima laporan kehilangan dari sejumlah korban.
«"Benar, sudah ada laporan kehilangan yang masuk. Sementara ini tercatat ada puluhan laporan, mulai dari kehilangan HP hingga dompet," ujar AKP Wiwit Maryanto, Senin (29/6/2026).»
Menurut kepolisian, banyaknya laporan yang diterima menunjukkan bahwa kejadian tersebut memerlukan perhatian serius, terutama dalam aspek pengamanan dan pengendalian massa pada penyelenggaraan acara yang menghadirkan ribuan pengunjung.
Salah seorang korban berinisial N mengaku kehilangan dua unit telepon genggam, masing-masing bermerek Samsung dan iPhone, dengan nilai kerugian diperkirakan mencapai Rp16 juta.
Korban lainnya berinisial W mengaku kehilangan dompet yang berisi KTP, kartu ATM, sejumlah dokumen penting, serta uang tunai saat berada di tengah kerumunan pengunjung.
Keluhan serupa juga ramai bermunculan di media sosial. Sejumlah warga mengaku mengalami kejadian serupa dan menilai kepadatan pengunjung tidak diimbangi dengan sistem pengamanan maupun pengaturan arus massa yang memadai sehingga diduga memberi ruang bagi pelaku kejahatan beraksi.
Menanggapi peristiwa tersebut, Kapolsek Balongpanggang mengusulkan agar penyelenggaraan kegiatan serupa ke depan dievaluasi secara menyeluruh.
«"Jika ada kegiatan besar seperti itu, pengaturannya harus lebih tertib. Mekanisme masuk maupun pembagian pengunjung bisa diatur, misalnya melalui sistem kupon atau metode lain agar tidak terjadi penumpukan massa," jelasnya.»
Meski tindak pidana pencopetan merupakan tanggung jawab pelaku, penyelenggara kegiatan memiliki peran penting dalam melakukan mitigasi risiko melalui koordinasi dengan aparat keamanan, penyediaan personel pengamanan yang memadai, serta pengaturan arus pengunjung guna meminimalkan potensi terjadinya tindak kriminal.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak panitia mengenai banyaknya laporan kehilangan maupun langkah evaluasi yang akan dilakukan. Masyarakat kini menunggu tidak hanya pengungkapan pelaku oleh kepolisian, tetapi juga keterbukaan penyelenggara dalam memberikan penjelasan serta memastikan peristiwa serupa tidak kembali terulang pada kegiatan mendatang.(wan)

