KEDIRI || BERITA KARYA
Suasana penuh kebersamaan dan kearifan lokal mewarnai pelaksanaan tradisi Bersih Desa Paron yang digelar pada Selasa Kliwon, 7 Juli 2026, di Desa Paron, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini kembali menjadi momentum penting bagi masyarakat dalam mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil panen sekaligus memohon keselamatan, keberkahan, dan kemakmuran bagi seluruh warga desa.
Kegiatan Bersih Desa merupakan agenda adat yang rutin diselenggarakan setiap tahun dan hingga kini tetap terjaga kelestariannya berkat dukungan penuh masyarakat serta Pemerintah Desa Paron. Rangkaian kegiatan berlangsung khidmat namun tetap semarak, dipadati masyarakat dari berbagai kalangan yang datang untuk mengikuti prosesi adat maupun menikmati kemeriahan acara.
Salah satu daya tarik utama dalam tradisi tersebut adalah hadirnya tumpeng raksasa yang dihiasi aneka sayuran, buah-buahan, serta berbagai hasil bumi yang merupakan hasil panen para petani Desa Paron. Beragam komoditas pertanian tersebut disusun dengan indah sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan sekaligus menjadi lambang harapan agar hasil pertanian masyarakat semakin melimpah pada musim berikutnya.
Tidak hanya menjadi simbol kemakmuran, hasil bumi tersebut juga mencerminkan kekayaan sektor pertanian Desa Paron yang selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat.
Dalam pelaksanaan tradisi Bersih Desa, terdapat prosesi sakral berupa doa bersama dan ritual adat di tiga punden yang diyakini memiliki nilai sejarah bagi masyarakat setempat. Ketiga punden tersebut yakni Punden Setono Pande, Punden Duwa Aru-Aru, serta Punden Joko Plontang.
Prosesi ritual dilakukan secara bergiliran sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur yang diyakini telah membuka serta menjaga wilayah Desa Paron sejak dahulu kala. Tradisi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga nilai budaya, sejarah, serta identitas masyarakat desa yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Pelaksanaan Bersih Desa tahun ini juga dihadiri berbagai unsur pemerintahan dan lembaga desa, di antaranya Camat Ngasem, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Babinsa, Bhabinkamtibmas, Pemerintah Desa Paron, Koperasi Wanita (Kopwan), Karang Taruna, Kelompok Wanita Tani (KWT), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga Desa Paron yang memadati lokasi kegiatan.
Kehadiran seluruh elemen tersebut menunjukkan kuatnya sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian budaya lokal sekaligus mempererat persatuan dan gotong royong di tengah kehidupan masyarakat.
Kepala Desa Paron, Buyung, menyampaikan bahwa tradisi Bersih Desa bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan warisan budaya yang harus terus dijaga keberlangsungannya.
Menurutnya, tradisi tersebut menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga sekaligus media untuk menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tidak melupakan sejarah dan identitas daerahnya.
"Kami berharap tradisi Bersih Desa ini dapat terus dilestarikan hingga anak cucu nanti. Budaya ini merupakan warisan leluhur yang harus kita jaga bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus mempererat persaudaraan seluruh warga Desa Paron," ujar Kepala Desa Buyung.
Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi sejak pagi hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai. Warga berbondong-bondong mengikuti prosesi kirab, doa bersama, hingga menikmati hidangan yang telah disiapkan panitia.
Setelah prosesi adat selesai, masyarakat bersama-sama menikmati aneka makanan tradisional, sayuran, serta buah-buahan hasil bumi yang sebelumnya disusun menjadi tumpeng. Suasana penuh keakraban tampak mewarnai kebersamaan warga tanpa membedakan usia maupun latar belakang.
Tradisi makan bersama tersebut menjadi simbol kebersamaan, persatuan, serta rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan kepada masyarakat Desa Paron.
Melalui pelaksanaan Bersih Desa setiap tahunnya, masyarakat berharap keberkahan, keselamatan, ketenteraman, dan hasil panen yang melimpah senantiasa menyertai Desa Paron. Selain menjadi bentuk pelestarian budaya, kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat semangat gotong royong serta menjadi daya tarik budaya yang dapat terus dikenal oleh generasi mendatang.
